Kamis, 14 November 2013

Calg Dari NU



Pertanyaan :
Andaikan jam’iyah NU baik di tingkat cabang wilayah atau pengurus besar membuat suatu ketentuan : Semua anggota DPR/DPRD yang dicalonkan oleh jam’iyah NU apabila telah dilantik maka diwajibkan memberi dana kepada jam’iyah sekian persen dari penghasilan bulanan anggota DPR/DPRD.
Apakah ketentuan semacam itu menjadi wajib syar’an yang harus ditaati dengan pengertian yusabu ‘ala failihi wayu ‘aqobu ‘ala tarkihi?

Jawaban
Hukumnya anggota DPR menetapi janji kepada jam’iyah NU itu wajib syar’an sebab termasuk isti’jar al manafi’ atau iqrar Min babi wujubi itha’ati ulil amri.

Dasar Pengambilan Dalil Al-I’anatu al-tholibin, III: 109.

نعم يرد عليه بيع حق الممر فإنه تمليك منفعة بعوض معلوم وهو بيع لا إجارة وأجيب عنه بأنه ليس بيعا محضا بل فيه شوب إجارة وإنما سمي بيعا نظرا لصيغته فقط فهو إجارة معنى، إلى أن قال: وأما الواردة على الذمة فيشترط فيها قبض الإجرة في المجلس. وفي ص.۲ وكبيع حق الممر للماء أن لايصل الماء إلى محله إلا بواسطة ملك غيره.

Betul berlaku baginya menjual belikan hak melewati. Hal ini usaha memiliki kemanfaatan dengan ganti rugi yang jelas (ma’lum). Sesungguhnya itu bukan murni jual beli tetapi disitu berbau sewa. Dikatakan jual beli karena memandang sighotnya (transaksinya) semata dan dikatakan sewa/kontrak menurut artinya … s/d ... adapun yang terjadi bagi beban atau tanggung jawab. Maka syarat didalamnya harus menerima ongkos (seketika) dalam satu majlis (waktu transaksi).

Pemahaman Bid'ah



PEMAHAMAN BID’AH

Al-Imam Sulthanul Ulama Abu Muhammad Izzuddin Bin abdissalam (577-660H/1181-1262M) menyatakan :

البدعة فعل مالم يعهد فى عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم  (قواعد الاحكام فى مصالح الانام :2/172)

“bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasululloh saw” (qowaidul Ahkam fimasolihil anam juz 2 Hal 172)

Cakupan bid’ah itu sangat luas sekali, meliputi semua perbuatan yang tidak pernah ada pada masa Nabi saw. Oleh karena itu sebagian besar ulama membagi bid’ah menjadi lima macam :

1.      Bid’ah wajibah, yakni bid’ah yang dilakukan untuk mewujudkan hal-hal yang diwajibkan oleh syara’, seperti mempelajari ilmu nahwu, sorof, balaghoh dll, sebab hanya dengan ilmu-ilmu inilah sseorang dapat memahami Al-Qur’an dan Hadist Nabi saw secara sempurna.
2.      Bid’ah muharramah, yakni bid’ah yang bertentangan dengan syara’, seperti bid’ah faham jabariyyah, Qadariyyah dll
3.      Bid’ah mandubah, yakni segala sesuatu yang baik, tapi tidak pernah dilakukan pada masa Rasulloh saw misalnya, solat tarawih secara berjama’ah sebulan penuh, mendirikan madrasah dan pesantren  untuk mempermudah sistem pendidikan.
4.      Bid’ah makruhah, seperti menghiasi masjid dengan hiasan yang berlebihan
5.      Bid’ah mubahah, seperti berjabatan tangan setelah solat dan makan makanan yang lezat (Qowaidul ahkam fimasholihil anam Juz 1 Hal 173)

Lima macam bid’ah ini bisa dikelompokkan menjadi dua bagian, yakni

1.      Bid’ah hasanah.
Yakni perbuatan baru yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran islam bahkan dalam keadaan tertentu sangat dianjurkan. Masuk katagori ini adalah bid’ah wajibah, mandubah, dan mubahah. Dalam konteks inilah perkataan sayyidina Umar Bin Al-Hattab ra tentang berjamaah dalam salat tarawih yang beliau laksakan.

2.      Bid’ah sayyiah
Yakni perbuatan baru yang secara nyata bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam hal ini adalah bid’ah muharromah dan makruhah. Inilah yang dimaksud sabda Nabi saw :

عن عائشة رضي الله عنها قالت ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من عَمِلَ عَمَلَ ليس عليه أمرنا فهو رَدٌّ (روه مسلم: 234)

‘’Dari ‘Aisyah-Radhiallahu ‘anha: ia berkata, ‘’sesungguhnya rasulullah saw bersada, ‘’barang siapa yang melakukan sesuatu perbuatan yang tiada kami atasnya,maka amal itu di tolak,’’ (HR. Muslim,243)

عن جرير بن عبد الله قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ،مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ،وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ  رواه مسلم

Dari Jarir Bin Abdillah, Rasululloh saw bersabda, “siapa saja yang membuat sunnah yang baik (sunnah hasanah) dalam agam islam, ma dia akan mendapatkan pahala dari perbuatan tersebut serta pahala dari orang-orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa yang merintis sunnah jelek (sunnah sayyi’ah), maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan itu dan dosa-dosa orang yang setelahnya yang meniru perbuatan tersebut, tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR  Muslim. 4830)

Imam al-Syafi’i Ra yang dikutip dalam kitab al-Fath al-Bari menjelaskan bahwa “sesuatu yang diada-adakan itu ada dua macam. Pertama, sesuatu yang baru itu menyalahi al-Qur’an, Sunnah Nabi saw, aktsar atau ijma’ ulama. Ini disebut dengan bid’ah dhalal (sesat). Dan kedua, jika sesuatu yang baru tersebut termasuk kebajikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, Al-Sunnah dan ijma’), maka perbuatan tersbut tergolong perbuatan baru yang tidak dicela.” (Fathul Bari juz 17 Hal 10)
Dapat disimpulkan bahwa tidak semua bid’ah itu dilarang dalam agama. Sebab yang tidak diperkenankan adalah perbuatan yang dihawatirkan akan menghancurkan sendi-sendi agama islam. Sedangkan amaliah yang akan menambah si’ar dan daya tarik agama islam tidak dilarang. Bahkan untuk sa’at ini sudah waktunya ummat islam lebih kreatif untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan zaman yang makin kompleks, sehingga agama islam akan selalu relevan disetiap waktu dan tempat. Secara logika juga dapat disimpulkan jika  pengartian bid’ah adalah sesuatu yang tidak pernah dikerjakan (dikenal) dizaman Rasululloh maka segala perbuatan kita dan keseharian kita adalah bid’ah naik mobil pakai peci menggunakan HP, Komputer dll adalah bid’ah dan jika diartikan bid’ah itu seluruhnya adalah dhalal (sesat) maka perbuatan tersebut adalah sesat dan mungin kita harus hidup didalam hutan. 
Kang Ikhwan

Aliran Sesat


Waspadai Aliran Sesat

Add caption
Aliran sesat, hingga saat ini masih ada dan terus tumbuh. Ibarat pepatah hilang satu tumbuh seribu, Silih berganti selalu menghiasi negri. Sebelum jauh merebaknya aliran dinegri kita pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama telah mengingatkan dan menghimbu kepada kita agar slalu waspada terhadap aliran-aliran yang menyimpang.

Fatwa dan himbauan KH Hasyim as’ari dalam Qonun asasi deklarasi pendirian NU

Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama “Jam’iyyah Nahdlatul Ulama” ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga.
Dalam hal ini hendaklah anda sekalian saling mengingatkan dengan kerjasama yang baik, dengan petunjuk yang memuaskan dan ajakan memikat serta hujjah yang tak terbantah. Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.” Dalam qonun tersebut Pendiri Jam’iyah Nahdlotul Ulama KH Hasyim as’ari telah menghimbau agar mewaspadai terhadap faham bid’ah dan sesat
Kriteria Aliran Sesat
Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 6 Nopember 2007 telah memberikan pedoman untuk mengidentifikasi aliran sesat. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya agar masyarakat lebih berhati-hati ketika menerima tawaran bergabung. Dalam pedoman ini ditetapkan sepuluh kriteria sebuah aliran atau kelompok dikategorikan sesat. Kesepuluh kriteria tersebut yaitu :
1.      Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
2.      Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar‘i
3.      Meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran
4.      Mengingkari autentisitas dan kebenaran isi Alquran
5.      Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaedah-kaedah tafsir
6.      Mengingkari kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
7.      Menghina, melecehkan dan merendahkan para nabi dan rasul
8.      Mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir
9.      Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok pokok  ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu
10.  Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar‘i, seperti mengakafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Indikasi Awal Aliran Sesat
Masyarakat awam perlu mengenali indikasi awal dari sebuah aktifitas kelompok tertentu untuk berjaga-jaga agar perkembangan aliran sesat ini bisa dipantau. Sebagai indikasi awal yang selayaknya menimbulkan kecurigaan terhadap satu paham atau pengajian bisa melalui tanda-tanda berikut :
1.      Pengajian dilaksanakan secara rahasia-rahasia, tertutup kepada selain jamaahnya.
2.  Sebagiannya melakukan pengajian tengah malam sampai subuh dan tempatnya pun sangat terisolir.
3.    Gurunya tidak dikenal sebagai ahli Agama, tidak pernah menekuni ilmu agama, dan tidak dikenal sebagai orang yang rajin beribadah, tetapi tiba-tiba menjadi pengajar Agama.
4.   Adanya bai‘at atau mitsaq untuk taat pada guru atau pimpinan pengajian. Bahkan, ada janji yang harus ditandatangani oleh anggota pengajian tersebut.
5.   Cara ibadah yang diajarkan aneh dan tidak lazim.
6.   Adanya tebusan dosa dengan sejumlah uang yang diserahkan kepada guru atau pimpinan jamaah.
7. Kadang-kadang, pengajian sesat ini mengharuskan adanya sedekah lebih dahulu sebelum berkonsukltasi dengannya.
8.   Adanya penyerahan sejumlah uang, seperti Rp 300.000, dan orang yang menyerahkannya pasti masuk sorga.
9.  Adanya sumbangan yang tidak lazim sebagaimana layaknya sumbangan sebuah pengajian. Misalnya, 10% atau 5% dari penghasilan harus diserahkan kepada guru atau pimpinan pengajian.
10.  Pengajiannya tidak mempunyai rujukan yang jelas, hanya penafsiran-penafsiran gurunya saja.
11.  Pengajiannya tidak memakai Hadis Nabi Saw.
12. Sumber ajaran hanya Alquran dengan penafsiran dan pemahaman guru yang ditetapkan oleh pengajian dan tidak boleh belajar kepada ustaz lain.


Description: frontPageFlowerDescription: Woven matbahtsul masailSalah satu mu’jizat Rasulullah saw Nabiyyur Rahmah (seorang nabi yang paling sayang kepada umatnya) adalah sabda beliau yang menjelaskan kondisi umat di masa yang akan datang, sabda tadi diriwayatkan oleh sahabat Hudzaifah Ibn Yaman ra. Di mana beliau berkata:

كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير شر قال نعم فقلت هل بعد ذلك الشر من خير قال نعم وفيه دخن قلت وما دخنه قال قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر فقلت هل بعد ذلك الخير من شر قال نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها فقلت يا رسول الله صفهم لنا قال نعم قوم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا قلت يا رسول الله فما ترى إن أدركني ذلك قال تلزم جماعة المسلمين وإمامهم فقلت فإن لم تكن لهم جماعة ولا إمام قال فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض على أصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك . اهـ صحيح البخاري طوق النجا 199 مكتبه شاملة

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang ‘kebaikan’ (Islam) sedang aku (Hudzifah) bertanya tentang ‘kejelekan’ karena aku khawatir kejelekan itu menimpa pada diriku.
Aku bertanya (Hudzifah) “wahai Rasulullah kita dahulu pernah hidup di zaman jahiliyah yang penuh keburukan, kemudian – ember lillah- Allah menggantikannya dengan kebaikan (Islam), apakah setelah kebaikan (Islam) ini akan muncul suatu kejelekan kembali? Kemudian Rasulullah saw menjawab : ya, ada.
Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apakah setelah kejelekan yang terjadi itu akan muncul kembali kebaikan (Islam)? Beliau (Rasulullah saw) menjawab: ya, masih ada, tetapi kebaikan itu tidak murni, ada kekaburan (campuran) nya.
Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apa kekaburannya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: yaitu kelompok (kaum) yang mengaku muslim tetapi perbuatannya tidak murni menurut sunnahku (ada campuran/kotoran-kotoran aqidah dan faham yang tidak menurut sunahku), dan mereka memberi petunjuk tidak menurut petunjukku. Sebagian perbuatan mereka ada yang kamu anggap baik karena (cocok dengan sunahku) dan sebagiannya yang lain ada yang kamu ingkari (karena) tidak sesuai dengan sunahku (Islam). Islam dibelokkan ajarannya oleh mereka menurut kepentingannya (kelompok mereka) dan jangan sampai ada anggapan bahwa Islam agama yang memudar (melemah) maka ajaran Islam dirubah-rubah oleh mereka, disesuaikan dengan perkembangan zaman (yang tambah rusak ini)Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apakah setelah kebaikan (yaitu Islam yang dibawa oleh kaum yang tidak murni Islamnya itu) timbul kejelekan lagi, wahai Rasulullah? Jawabannya ya, ada. Yaitu dai-dai yang berdiri di depan pintu-pintu neraka jahannam. Barang siapa yang melaksanakan dakwah dan ajakannya, maka mereka da’i-da’i tersebut melempar orang tadi ke dalam neraka jahannam, dai-dai itu mengaku sebagai muslim tetapi terang-terangan dakwahnya memusuhi Islam dan bertentangan dengan Islam.
Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: jelaskan kami (wahai Rasululllah) sifat/identitas da’i-dai itu? Rasulullah menjawab, mereka itulah orang yang kulitnya sama dengan kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita. Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apa yang kamu perintahkan kepada kami jika keadaan seperti itu menemui kami? Jawab Rasulullah: kamu harus (wajib) bergantung dengan kelompok orang-orang Islam dan pimpinan-pimpinannya. Kemudian Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: kalau sudah tidak ada kelompok orang-orang Islam dan pimpinan-pimpinannya, bagaimana wahai Rasulullah? Rasulullah saw menjawab : tinggalkan semua kelompok-kelompok yang non muslim (semuanya), berpegang teguhlah kepada Islam walaupun kamu sendirian. Begitu pentingnya pendirian ini hingga Rasulullah saw menggambarkannya (seakan-akan kamu menggigit pokok pohon sehingga kamu mati sendirian dalam keadaan demikian)