Waspadai Aliran Sesat
 |
| Add caption |
Aliran sesat, hingga saat ini masih ada dan terus tumbuh. Ibarat pepatah
hilang satu tumbuh seribu, Silih berganti selalu menghiasi negri. Sebelum jauh
merebaknya aliran dinegri kita pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama telah
mengingatkan dan menghimbu kepada kita agar slalu waspada terhadap
aliran-aliran yang menyimpang.
Fatwa dan himbauan KH Hasyim as’ari dalam Qonun asasi deklarasi pendirian
NU
“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari
golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat,
berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama “Jam’iyyah Nahdlatul Ulama”
ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan
ikatan jiwa raga.
Dalam hal ini hendaklah
anda sekalian saling mengingatkan dengan kerjasama yang baik, dengan petunjuk
yang memuaskan dan ajakan memikat serta hujjah yang tak terbantah. Sampaikan
secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar
bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila
fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka
hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat
begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.”
Dalam qonun tersebut Pendiri Jam’iyah Nahdlotul Ulama KH Hasyim as’ari telah
menghimbau agar mewaspadai terhadap faham bid’ah dan sesat
Kriteria
Aliran Sesat
Majlis Ulama Indonesia
(MUI) pada tanggal 6 Nopember 2007 telah memberikan pedoman untuk
mengidentifikasi aliran sesat. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya agar
masyarakat lebih berhati-hati ketika menerima tawaran bergabung. Dalam pedoman
ini ditetapkan sepuluh kriteria sebuah aliran atau kelompok dikategorikan
sesat. Kesepuluh kriteria tersebut yaitu :
1. Mengingkari salah satu rukun iman
dan rukun Islam
2. Meyakini atau mengikuti akidah yang
tidak sesuai dengan dalil syar‘i
3. Meyakini turunnya wahyu sesudah
Alquran
4. Mengingkari autentisitas dan
kebenaran isi Alquran
5. Melakukan penafsiran Alquran yang
tidak berdasarkan kaedah-kaedah tafsir
6. Mengingkari kedudukan Hadis Nabi
sebagai sumber ajaran Islam
7. Menghina, melecehkan dan merendahkan
para nabi dan rasul
8. Mengingkari Nabi Muhammad saw.
sebagai Nabi dan Rasul terakhir
9. Mengubah, menambah dan atau
mengurangi pokok pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti
haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa
dalil syar‘i, seperti mengakafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Indikasi
Awal Aliran Sesat
Masyarakat awam perlu mengenali
indikasi awal dari sebuah aktifitas kelompok tertentu untuk berjaga-jaga agar
perkembangan aliran sesat ini bisa dipantau. Sebagai indikasi awal yang
selayaknya menimbulkan kecurigaan terhadap satu paham atau pengajian bisa
melalui tanda-tanda berikut :
1. Pengajian dilaksanakan secara
rahasia-rahasia, tertutup kepada selain jamaahnya.
2. Sebagiannya melakukan pengajian
tengah malam sampai subuh dan tempatnya pun sangat terisolir.
3. Gurunya tidak dikenal sebagai ahli
Agama, tidak pernah menekuni ilmu agama, dan tidak dikenal sebagai orang yang
rajin beribadah, tetapi tiba-tiba menjadi pengajar Agama.
4. Adanya bai‘at atau mitsaq untuk taat
pada guru atau pimpinan pengajian. Bahkan, ada janji yang harus ditandatangani
oleh anggota pengajian tersebut.
5. Cara ibadah yang diajarkan aneh dan
tidak lazim.
6. Adanya tebusan dosa dengan sejumlah
uang yang diserahkan kepada guru atau pimpinan jamaah.
7. Kadang-kadang, pengajian sesat ini
mengharuskan adanya sedekah lebih dahulu sebelum berkonsukltasi dengannya.
8. Adanya penyerahan sejumlah uang,
seperti Rp 300.000, dan orang yang menyerahkannya pasti masuk sorga.
9. Adanya sumbangan yang tidak lazim
sebagaimana layaknya sumbangan sebuah pengajian. Misalnya, 10% atau 5% dari
penghasilan harus diserahkan kepada guru atau pimpinan pengajian.
10. Pengajiannya tidak mempunyai rujukan
yang jelas, hanya penafsiran-penafsiran gurunya saja.
11. Pengajiannya tidak memakai Hadis
Nabi Saw.
12. Sumber ajaran hanya Alquran dengan
penafsiran dan pemahaman guru yang ditetapkan oleh pengajian dan tidak boleh
belajar kepada ustaz lain.


Salah satu
mu’jizat Rasulullah saw Nabiyyur Rahmah (seorang nabi yang paling sayang kepada umatnya) adalah sabda beliau yang
menjelaskan kondisi umat di masa yang akan datang, sabda tadi diriwayatkan oleh
sahabat Hudzaifah Ibn Yaman ra. Di mana beliau berkata:
كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن
الشر مخافة أن يدركني فقلت يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا
الخير فهل بعد هذا الخير شر قال نعم فقلت هل بعد ذلك الشر من خير قال نعم وفيه دخن
قلت وما دخنه قال قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر فقلت هل
بعد ذلك الخير من شر قال نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها فقلت
يا رسول الله صفهم لنا قال نعم قوم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا قلت يا رسول الله
فما ترى إن أدركني ذلك قال تلزم جماعة المسلمين وإمامهم فقلت فإن لم تكن لهم جماعة
ولا إمام قال فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض على أصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت
على ذلك . اهـ صحيح البخاري طوق النجا 199 مكتبه شاملة
Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang
‘kebaikan’ (Islam) sedang aku (Hudzifah) bertanya tentang ‘kejelekan’ karena
aku khawatir kejelekan itu menimpa pada diriku.
Aku bertanya (Hudzifah) “wahai Rasulullah kita
dahulu pernah hidup di zaman jahiliyah yang penuh keburukan, kemudian – ember
lillah- Allah menggantikannya dengan kebaikan (Islam), apakah setelah kebaikan
(Islam) ini akan muncul suatu kejelekan kembali? Kemudian Rasulullah saw
menjawab : ya, ada.
Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apakah setelah
kejelekan yang terjadi itu akan muncul kembali kebaikan (Islam)? Beliau
(Rasulullah saw) menjawab: ya, masih ada, tetapi kebaikan itu tidak murni, ada
kekaburan (campuran) nya.
Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apa kekaburannya
wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: yaitu kelompok (kaum) yang mengaku
muslim tetapi perbuatannya tidak murni menurut sunnahku (ada
campuran/kotoran-kotoran aqidah dan faham yang tidak menurut sunahku), dan
mereka memberi petunjuk tidak menurut petunjukku. Sebagian perbuatan mereka ada
yang kamu anggap baik karena (cocok dengan sunahku) dan sebagiannya yang lain
ada yang kamu ingkari (karena) tidak sesuai dengan sunahku (Islam). Islam
dibelokkan ajarannya oleh mereka menurut kepentingannya (kelompok mereka) dan
jangan sampai ada anggapan bahwa Islam agama yang memudar (melemah) maka ajaran
Islam dirubah-rubah oleh mereka, disesuaikan dengan perkembangan zaman (yang
tambah rusak ini)Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apakah setelah kebaikan (yaitu
Islam yang dibawa oleh kaum yang tidak murni Islamnya itu) timbul kejelekan
lagi, wahai Rasulullah? Jawabannya ya, ada. Yaitu dai-dai yang berdiri di depan
pintu-pintu neraka jahannam. Barang siapa yang melaksanakan dakwah dan
ajakannya, maka mereka da’i-da’i tersebut melempar orang tadi ke dalam neraka
jahannam, dai-dai itu mengaku sebagai muslim tetapi terang-terangan dakwahnya
memusuhi Islam dan bertentangan dengan Islam.
Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: jelaskan kami
(wahai Rasululllah) sifat/identitas da’i-dai itu? Rasulullah menjawab, mereka
itulah orang yang kulitnya sama dengan kulit kita dan berbicara dengan bahasa
kita. Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: apa yang kamu
perintahkan kepada kami jika keadaan seperti itu menemui kami? Jawab Rasulullah:
kamu harus (wajib) bergantung dengan kelompok orang-orang Islam dan
pimpinan-pimpinannya. Kemudian Kemudian aku (Hudzaifah) bertanya: kalau sudah
tidak ada kelompok orang-orang Islam dan pimpinan-pimpinannya, bagaimana wahai
Rasulullah? Rasulullah saw menjawab : tinggalkan semua kelompok-kelompok yang
non muslim (semuanya), berpegang teguhlah kepada Islam walaupun kamu sendirian.
Begitu pentingnya pendirian ini hingga Rasulullah saw menggambarkannya
(seakan-akan kamu menggigit pokok pohon sehingga kamu mati sendirian dalam
keadaan demikian)